Rabu, 27 April 2011

Kebudayaan Skotlandia

Skotlandia, atau, Alba dalam bahasa Gaelik Skotlandia, dahulu merupakan sebuah kerajaan merdeka di sebelah utara pulau Britania. Pada tanggal 26 Maret 1707. Kerajaan Skotlandia bersatu dengan kerajaan Inggris yang kemudian menjadi "Kerajaan Britania Raya" dan akhirnya "Persatuan Kerajaan Britania Raya dan Irlandia Utara". Pada tahun 1999, Skotlandia mendapatkan parlemen dan pemerintahan sendiri.

Kerajaan Skotlandia (bahasa Gaelik Skotlandia: Rìoghachd na h-Alba) adalah sebuah negara yang terletak di Eropa Barat, di sepertiga bagian utara dari pulau Britania Raya. Negara ini berdiri dari 843 hingga Akta Penyatuan 1707 yang mempersatukannya dengan Kerajaan Inggris (927–1707) untuk membentuk Kerajaan Britania Raya (1707–1800). Penduduknya pada 1700 sekitar 1,1 juta.

Bentuk pemerintahan

Struktur politik Kerajaan secara historis kompleks. Namun demikian, selama keberadaan Kerajaan orang-orang Skotlandia, diakui adanya satu monark, atau Raja Utama. Di bawah suzerainty dari seorang Raja Utama, terdapat para ketua suku dan raja-raja kecil serta jabatan-jabatan yang diisi melalui pemilihan oleh sebuah majelis di bawah suatu sistem yang dikenal sebagai tanistry yang menggabungkan unsure keturunan dengan persetujuan dari mereka yang dipimpin. Sang kandidat biasanya dicalonkan oleh si pemegang jabatan menjelang kematiannya, dan ahli waris yang dipilihnya itu dikenal sebagai tanist, dari Bahasa Gaelik Skotlandia tanaiste. Setelah Macbeth digulingkan oleh Máel Coluim III pada 1057 dan pada masa pemerintahan Raja David I pengaruh para pemukim Norman di Skotlandia menyaksikan pengangkatan putera mahkota sebagai cara suksesi di Skotlandia ini seperti banyak kerajaan lain di Eropa Barat. Maka berkembanglah suatu 'kerajaan hibrida', satu bagian daripadanya diperintah oleh suatu campuran antara pemerintahan feodal dan kebiasaan Kelt. Dewan-dewan awal ini tidak dapat dianggap sebagai 'parlemen' seperti dalam pengertiannya di kemudian hari.

Mulanya, orang-orang Skotlandia takluk kepada ketua Klan mereka atau laird, oleh karenanya, Raja Utama harus terus-menerus membuat mereka selalu senang, atau mereka akan mengadakan konflik bersenjata.

Pakaian tradisional skotlandia

Kilt adalah pakaian tradisional Skotlandia dan bangsa Keltik yang dikenakan di bagian pinggang dan mengelilingi tubuh pemakai hingga bagian atas kaki di atas lutut. Kilt umumnya terbuat dari wol serta mempunyai corak tartan. Tergantung acara, kilt biasa dikenakan bersama dengan jaket, tali pinggang, sporran (sejenis kantong), dan sepatu khusus. kilt umumnya digunakan oleh laki-laki.

Tampak Sean Connery dan anggota drum band Angkatan Udara Amerika Serikat sedang mengenakan kilt dalam suatu acara pada tahun 2004.

Beda bangsa maka beda pula cara berpakaiannya. Di Fiji ada pakaian tradisional yang sering dipakai dalam berbagai aktifitas sehari-hari dan pada acara tertentu seperti acara kenegaraan, selebrasi, sekolah dan lain-lain maka pakaian tradisional menjadi pakaian wajib untuk dikenakan oleh para pria di Fiji.

Pakaian tradisional Fiji tersebut dikenal dengan nama SULU. Hampir mirip dengan Kilt yaitu pakaian berupa rok yang dipakai oleh para pria di Fiji. Pada awal mula kedatangan, penulis sempat merasa kaget, aneh dan sekaligus kagum dengan cara berpakaian mereka. Mungkin bagi pria pada umumnya, sungguhlah risih memakainya. Tetapi di Fiji, para pria yang mengenakannya menganggapnya biasa saja bahkan bangga bila ditanyakan tentang SULU.

Ala t musik tradisional skotlandia

alat musik khas Skotlandia bernama Bagpipe. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Namun berbeda dengan seruling, Bagpipe memiliki satu tabung guna menyimpan udara. Sedangkan untuk lubang seruling, berjumlah sekitar lima buah.



Bahasa skotlandia

Bahasa Gaelik Skotlandia juga berhubungan dekat dengan bahasa Manx dan Irlandia dan dibawa ke Skotlandia sekitar abad ke-4 M oleh orang-orang Skotlandia dari Irlandia. Bahasa Gaelik Skotlandia dituturkan di seluruh Skotlandia (selain dari daerah agak ke tenggara dan timur laut) antara abad ke-9 dan 11, namun mulai mundur ke utara dan barat dari abad ke-11 dst. Seluruh logat bahasa Gaelik Skotlandia secara berkaitan dapat dimengerti, dan bahasa Irlandia tertulis dapat dimengerti dalam tingkat luas.

Tulisan bahasa Gaelik Skotlandia yang dapat dimengerti dari awal ialah catatan dalam Book of Deer yang ditulis di Skotlandia timur laut di abad ke-12, walau keberadaan bahasa Gaelik Klasik tertulis yang umum tersembunyi luas dari perbedaan antara bahasa Gaelik Skotlandia dan Irlandia.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Skotlandia

Komentar : Kebudayaan Skotlandia sangat unik karna meraka memiliki pakaian yang sangat has yang disebut dengan klit. Kilt adalah pakaian tradisional Skotlandia dan bangsa Keltik yang dikenakan di bagian pinggang dan mengelilingi tubuh pemakai hingga bagian atas kaki di atas lutut dan bentuknya seperti rok tapi dipakai atau digunakan olah pria. Selain itu meraka juga memiliki alat music yang unik dan digunakannya biasanya bersamaan dengan pakaian ada klit, nama alat musik ini adalah Bagpipe, yang dimainkan dengan cara ditiup, namun berbeda dengan seruling, Bagpipe memiliki satu tabung guna menyimpan udara.

Baca Selengkapnya..

Kamis, 21 April 2011

Kebudayaan Bangsa China

Kebudayaan China ialah penempatan kepada salah satu tamadun tertua dan paling kompleks yang meliputi sejarah lebih 5,000 tahun. Negara China meliputi kawasan geografi besar yang penuh adat dan tradisi yang banyak berbeza antara pekan, bandar dan wilayah.

Kebudayaan kuno China dimulai pada massa kaisar T'ang dinasti Syang yang berlangsung selama tahun 1766- 1122 SM. Pada zaman dinasti ini berkembang semacam feodalisme, selain kaisar yang berkuasa di pusat wilayah ada pula bangsawan- bangsawan yang memerintah di daerah- daerah pesisir .

Pada zaman dinasti Cou seorang raja atau kaisar disebut "Putra langit" yang di percaya sebagai dewa tertinggi alam semesta. Sistem pemerintahan masih sama dengan sistem pemerintahan sekarang, jika seorang raja bekerja dengan baik maka akan di dukung penuh oleh rakyat begitu pun sebaliknya.

Bahasa

Bahasa Cina lisan terdiri daripada sebilangan dialek Cina sepanjang sejarah. Ketika Dinasti Ming, bahasa Mandarin baku dinasionalkan. Sengguhpun begitu, barulah ketika zaman Republik China pada awal abad ke-20 apabila kelihatan apa-apa hasil yang nyata dalam memupuk satu bahasa seragam di China.

Pada zaman kuno, bahasa Cina Klasik menjadi standard penulisan selama beribu-ribu tahun, tetapi banyak terhad kepada golongan sarjana dan cendekiawana. Menjelang abad ke-20, jutaan rakyat, termasuk yang di luar kerabat diraja buta huruf. Hanya selepas Gerakan 4 Mei baru bermulanya usaha beralih ke bahasa Cina Vernakular yang membolehkan rakyat biasa membaca kerana dirangka berasaskan linguistik dan fonologi bagi suatu bahasa lisan.

Kerohanian

Sebahagian besar budaya Cina berasaskan tanggapan bahawa wujudnya sebuah dunia roh. Berbagai-bagai kaedah penelahan telah membantu menjawab soalan, dan dijadikan pun alternatif kepada ubat. Budaya rakyat telah membantu mengisi kekosongan untuk segala hal yang tiada penjelasannya. Kaitan antara mitos, agama dan fenomena yang aneh memang rapat sekali. Dewa-dewi menjadi sebahagian tradisi, antara yang terpenting termasuk Guan Yin, Maharaja Jed dan Budai. Kebanyakan kisah-kisah ini telah berevolusi menjadi perayaan tradisional Cina. Konsep-konsep lain pula diperluas ke luar mitos menjadi lambang kerohanian seperti dewa pintu dan singa penjaga. Di samping yang suci, turut dipercayai yang jahat. Amalan-amalan seperti menghalau mogwai dan jiang shi dengan pedang kayu pic dalam Taoisme adalah antara konsep yang diamalkan secara turun-temurun. Upacara penilikan nasibCina masih diamalkan pada hari ini selepas bertahun-tahun mengalami perubahan.

Pakaiaan bangsa Cina

Sejarah kehadiran kaum Cina bermula dengan berkembangnya Melaka sebagi pusat perdagangan, diikuti Pulau Pinang dan Kula Lumpur. Kehadiran mereka ini membawa bersama bukan sahaja barangan dagangan untuk tukaran, tetapi jua adat resam, budaya dan corak pakaian tradisional mereka yang kemudiannya disesuaikan dengan suasana tempatan.

Busana klasik Cina yang asalnya berlapis-lapis, sarat dengan sulaman benang emas dan sutera, kini masih boleh dilihat dengan diubahsuai mengikut peredaran masa dan kesesuaian. Jubah Labuh, Cheongsam, Baju Shanghai dan Samfoo kekal dipakai di dalam majlis dan upacara. Kebanyakannya masih dihasilkan dari negeri China menggunakan fabrik sutera dan broked yang berwarna terang dengan ragamhias benang emas dan perak.

Alat Musik Tradisional

Alat musik tradisional Cina mengacu kepada semua jenis alat musik yang digunakan dalam budaya Cina. Alat musik tradisional China dapat dimainkan secara solo, ataupun secara bersama-sama dalam sebuah orkes yang besar (seperti zaman dahulu di istana kerajaan) atau dalam grup-grup musik mandarin kecil. Alat musik tradisional Cina secara sederhana dapat digolongkan sebagai berikut:

Alat musik gesek

Erhu(二胡)- Rebab China, badannya menggunakan kulit ular sebagai membran, menggunakan 2 senar, yang digesek dengan penggesek terbuat dari ekor kuda.

Gaohu(高胡)- Sejenis dengan Erhu, hanya dengan nada lebih tinggi.

Gehu(革胡)- Alat musik gesek untuk nada rendah, seperti Cello.

Banhu(板胡)- Rebab China, dengan badan terbuat dari batok kelapa dengan papan kayu sebagai membrannya.

Alat musik petik

Liuqin(柳琴)- Alat musik petik kecil bentuknya seperti buah pir dengan 4 senar.

Yangqin扬琴)- Alat musik ini memiliki banyak senar, cara memainkannya dengan memukul dengan stik bambu sebagai pemukulnya.

Pipa(琵琶)- Alat musik petik berbentuk buah pir dengan 4 atau 5 senar.

Ruan(阮)- Alat musik petik berbentuk bulat dengan 4 senar.

Sanxian(三弦)- Alat musik petik dengan badan terbuat dari kulit ular dan dengan leher panjang, memiliki 3 senar.

Guzheng(古筝)- Kecapi yang memiliki 16 - 26 senar.

Konghou(箜篌)- Harpa China.

Alat musik tiup

Dizi(笛子)- Suling dengan menggunakan membran getar.

Suona唢呐)- Terompet China

Sheng(笙)- Alat musik yang menggunakan bilah logam dengan tabung-tabung bambu sebagai penghasil suara.

Xiao箫)- Suling.

Paixiao(排箫)- Pipa pen.

Alat musik pukul (perkusi)

Paigu(排鼓)- Gendang yang terdiri dari satu set 4 atau lebih.

Dagu(大股)- Tambur besar.

Chazi镲子)- Simbal, cengceng.

Luo锣)- Gong.

Muyu(木鱼)- Kecrek terbuat dari kayu.


Sumber : http://ms.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan_Cina

Komentar : Kebudayaan bangsa cina ini sangat abnyak keran bangsa cina sudah ada lebih dari 5000 tahun yang lalu, dan dipimpin oleh kaisar atau dapat disebut juga raja . bangsa cina ini memiliki pakaian yang sangat bagus karena bangsa ini sangar menyukai pakaian yang terbuat dari sutra dan emas. Meraka juga memiliki banyak kesenian alat music tradisional seperti alat musik gesek, alat musik tiup dan alat musik petik . bangsa cina ini menggunakan bahasa mandarin sehari-hari, tapi pada jaman dahulu bahasa Cina Klasik menjadi standard penulisan selama beribu-ribu tahun, tetapi banyak terdapat kepada golongan sarjana dan cendekiawana.

Baca Selengkapnya..

Sabtu, 16 April 2011

Kebudayaan Suku Asmat

Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang berada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai.

Ada banyak pertentangan di antara desa berbeda Asmat. Yang paling mengerikan adalah cara yang dipakai Suku Asmat untuk membunuh musuhnya. Ketika musuh dibunuh, mayatnya dibawa ke kampung, kemudian dipotong dan dibagikan kepada seluruh penduduk untuk dimakan bersama. Mereka menyanyikan lagu kematian dan memenggalkan kepalanya. Otaknya dibungkus daun sago yang dipanggang dan dimakan.

Sekarang biasanya, kira-kira 100 sampai 1000 orang hidup di satu kampung. Setiap kampung punya satu rumah Bujang dan banyak rumah keluarga. Rumah Bujang dipakai untuk upacara adat dan upacara keagamaan. Rumah keluarga dihuni oleh dua sampai tiga keluarga, yang mempunyai kamar mandi dan dapur sendiri. Hari ini, ada kira-kira 70.000 orang Asmat hidup di Indonesia. Mayoritas anak-anak Asmat sedang bersekolah.

Mata pencarian

Kebiasaan bertahan hidup dan mencari makan antara suku yang satu dengan suku yang lainnya di wilayah Distrik Citak-Mitak ternyata hampir sama. suku asmat darat, suku citak dan suku mitak mempunyai kebiasaan sehari-hari dalam mencari nafkah adalah berburu binatang hutan separti, ular, kasuari< burung< babi hitan< komodo dll. mereka juga selalu meramuh / menokok sagu sebagai makan pokok dan nelayan yakni mencari ikan dan udang untuk dimakan. kehidupan dari ketiga suku ini ternyata telah berubah.

Rumah Suku Asmat

Suku Asmat adalah suku yang memegang kuat filosofi hidup dan nilai-nilai kesopanan. Hal itu juga termasuk dalam cara mereka membangun rumah adat Suku Asmat tanpa adanya campur tangan jasa arsitek di dalamnya

Jew

Rumah adat Suku Asmat yang dikenal dengan nama Jew, adalah rumah yang khusus diperuntukkan bagi pelaksanaan segala kegiatan yang sifatnya tradisi. Misalnya untuk rapat adat, melakukan pekerjaan membuat noken (tas tradisional Suku Asmat), mengukir kayu, dan juga tempat tinggal para bujang. Oleh karena itu, rumah Jew juga disebut sebagai Rumah Bujang.Rumah ini unik karena dibangun sangat panjang, bahkan hingga mencapai 50 meter. Karena masyarakat Asmat kuno belum mengenal paku, maka pembuatan rumah Jew sampai saat ini tidak menggunakan paku.

Rumah Tysem

Ada satu lagi rumah adat Suku Asmat yaitu, Tysem. Rumah ini bisa juga disebut sebagai rumah keluarga, karena yang menghuni adalah mereka yang telah berkeluarga. Biasanya, ada 2 sampai 3 pasang keluarga yang mendiami Tysem.Ukurannya lebih kecil dari pada rumah Jew. Letak rumah Tysem biasanya di sekeliling rumah Jew. Sebuah rumah Jew dapat dikelilingi oleh sekitar 15 sampai 20 rumah Tysem.

Bahan membangun rumah Tysem hampir sama dengan bahan pembuat rumah Jew. Semua dari bahan alami yang terdapat di hutan sekitar lokasi Suku Asmat berada.

Kepercayaan Terhadap Roh Leluhur

Suku Asmat berlatar belakang sebagai penganut animisme, sama seperti berbagai suku tradisional di seluruh dunia. Maka, kepercayaan terhadap hal gaib berupa roh leluhur yang menjaga mereka juga masih ada.Kepercayaan mereka itu dituangkan dalam keahlian membuat ukiran kayu tanpa sketsa. Mereka percaya, roh leluhur akan membimbing mereka untuk menyelesaikan patung ukiran yang mereka buat. Nama patung ukiran yang menceritakan tentang arwah para leluhur mereka disebut Mbis.Mbis banyak dijumpai di rumah adat Suku Asmat terutama Jew. Dipercaya roh leluhur akan turut menjaga rumah yang mereka bangun dengan adanya Mbis didalamnya.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Asmat

Komentar : Kebudayaan suku asmat ini sangat banyak ada yang baik dan ada juga yang mengerikan seperti cara mereka membunuh musuhnya. Selain itu suku asmat sendiri mencari makanan dengan cara berburu bibatang yang ada didaerah mereka, mereka juga mempunyai tempat tinggal atau rumah yang unik yang memegang kuat filosofi hidup dan nilai-nilai kesopanan. Hal itu juga termasuk dalam cara mereka membangun rumah adat Suku Asmat tanpa adanya campur tangan jasa arsitek di dalamnya dan suku asmat ini memiliki kepercayaan yang sama seperti suku-suku lainya mereka percaya kepada roh luluhur.

Baca Selengkapnya..

Kebudayaan Suku Batak

Kerajaan Batak didirikan oleh seorang Raja dalam negeri Toba sila-silahi (silalahi) lua’ Baligi (Luat Balige), kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja yang bersangkutan adalah Raja Kesaktian yang bernama Alang Pardoksi (Pardosi). Masa kejayaan kerajaan Batak dipimpin oleh raja yang bernama. Sultan Maharaja Bongsu pada tahun 1054 Hijriyah berhasil memakmurkan negerinya dengan berbagai kebijakan politiknya.

Batak adalah salah satu suku yang terdapat di sumatera Utara. Mereka adlah orang-orang kuat, cerdas dan kuat. Mereka memliki budaya yang kuat dan mempunyai ppersatuan yang kokoh, dimana pun mereka berada mereka selalu membentuk persatuan dan rasa solidaritas yang tinggi. Itu karena kebudayaan meraka yang mengajarkan seperti itu. Orang batak pun memiliki harga diri yang tinggi . mereka tidak akan pernah maumengemis untuk meminta sesuatu , mereka termasuk orang yang pekerja keras dan mereka berani mengadu nasib di kota besar dan mereka bisa menguasai perekonomian suatu daerah, dimana pun mereka berada mereka pasti punya rasa untuk membangun dirinya ajar lebih naju.

Bahasa

Dalam kehidupan dan pergaulan sehari-hari, orang Batak menggunakan beberapa logat, ialah:

(1) Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo

(2) Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak

(3) Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun

(4) Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing.

Agama

Pada abad 19 agama islam masuk daerah penyebaranya meliputi batak selatan . Agama kristen masuk sekitar tahun 1863 dan penyebaranya meliputi batak utara. Walaupun d emikian banyak sekali masyarakat batak didaerah pedesaan yang masih mmpertahankan konsep asli religi pendduk batak. Orang batak mempunyai konsepsi bahwa alam semesta beserta isinya diciptakan oleh Debeta Mula Jadi Na Balon dan bertempat tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama sesuai dengan tugasnya dan kedudukanya . Debeta Mula Jadi Na Balon : bertempat tinggal dilangit dan merupakan maha pencipta; Siloan Na Balom: berkedudukan sebagai penguasa dunia mahluk halus. Dalam hubungannya dengan roh dan jiwa orang batak mengenal tiga konsep yaitu : Tondi: jiwa atau roh; Sahala : jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang; Begu : Tondinya orang yang sudah mati. Orang batak juga percaya akan kekuatan sakti dari jimat yang disebut Tongkal.

Kesenian

Seni Tari yaitu Tari Tor-tor (bersifat magis); Tari serampang dua belas (bersifat hiburan). Alat Musik tradisional : Gong; Saga-saga. Hasil kerajinan tenun dari suku batak adalah kain ulos. Kain ini selalu ditampilkan dalam upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambut tamu yang dihormati dan upacara menari Tor-tor. Kain adat sesuai dengan sistem keyakinan yang diwariskan nenek moyang .

Sumber : http://de-kill.blogspot.com/2009/04/budaya-suku-batak.htm

Komentar : Kebudayaan pada suku batak ini memiliki cirri tersendiri yang membedakan dengan suku lain karena suku batak ini mempunyai ras atau bias disebut juga golongan pada suku itu sendiri dan setiap golongan mempunyai bahasa yang berbeda juga. Contohnya : Logat Karo yang dipakai oleh orang Karo, Logat Pakpak yang dipakai oleh Pakpak, Logat Simalungun yang dipakai oleh Simalungun, Logat Toba yang dipakai oleh orang Toba, Angkola dan Mandailing. Tapi walaupun berbeda-beda tapi orang batak ini memiliki rasa solidaritas yang tinggi diantara mereka dan memiliki harga diri yang tinggi juga dan suku batak ini juga mempunyai hasil kerajian yang banyak disukai orang banyak yaitu kerajinan tenun .

Baca Selengkapnya..

Kebudayaan Bali

Bali adalah nama salah satu provinsi di Indonesia dan juga merupakan nama pulau terbesar yang menjadi bagian dari provinsi tersebut. Selain terdiri dari Pulau Bali, wilayah Provinsi Bali juga terdiri dari pulau-pulau yang lebih kecil di sekitarnya, yaitu Pulau Nusa Penida, Pulau Nusa Lembongan, Pulau Nusa Ceningan dan Pulau Serangan.

Kebudayaan Bali pada hakikatnya dilandasi oleh nilai-nilai yang bersumber pada ajaran agama Hindu. Masyarakat Bali mengakui adanya perbedaaan ( rwa bhineda ), yang sering ditentukan oleh faktor ruang ( desa ), waktu ( kala ) dan kondisi riil di lapangan ( patra ). Konsep desa, kala, dan patra menyebabkan kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan selektif dalam menerima dan mengadopsi pengaruh kebudayaan luar. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa komunikasi dan interaksi antara kebudayaan Bali dan budaya luar seperti India (Hindu), Cina, dan Barat khususnya di bidang kesenian telah menimbulkan kreatifitas baru dalam seni rupa maupun seni pertunjukkan. Tema-tema dalam seni lukis, seni rupa dan seni pertunjukkan banyak dipengaruhi oleh budaya India. Demikian pula budaya Cina dan Barat/Eropa memberi nuansa batu pada produk seni di Bali. Proses akulturasi tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan Bali bersifat fleksibel dan adaptif khususnya dalam kesenian sehingga tetap mampu bertahan dan tidak kehilangan jati diri (Mantra 1996).

Kebudayaan Bali sesungguhnya menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud.

Musik

Seperangkat gamelan Bali. Musik tradisional Bali memiliki kesamaan dengan musik tradisional di banyak daerah lainnya di Indonesia, misalnya dalam penggunaan gamelan dan berbagai alat musik tabuh lainnya. Meskipun demikian, terdapat kekhasan dalam teknik memainkan dan gubahannya, misalnya dalam bentuk kecak, yaitu sebentuk nyanyian yang konon menirukan suara kera. Demikian pula beragam gamelan yang dimainkan pun memiliki keunikan, misalnya gamelan jegog, gamelan gong gede, gamelan gambang, gamelan selunding dan gamelan Semar Pegulingan. Ada pula musik Angklung dimainkan untuk upacara ngaben serta musik Bebonangan dimainkan dalam berbagai upacara lainnya.

Terdapat bentuk modern dari musik tradisional Bali, misalnya Gamelan Gong Kebyar yang merupakan musik tarian yang dikembangkan pada masa penjajahan Belanda serta Joged Bumbung yang mulai populer di Bali sejak era tahun 1950-an. Umumnya musik Bali merupakan kombinasi dari berbagai alat musik perkusi metal (metalofon), gong dan perkusi kayu (xilofon). Karena hubungan sosial, politik dan budaya, musik tradisional Bali atau permainan gamelan gaya Bali memberikan pengaruh atau saling memengaruhi daerah budaya di sekitarnya, misalnya pada musik tradisional masyarakat Banyuwangi serta musik tradisional masyarakat Lombok.

Tari

Seni tari Bali pada umumnya dapat dikatagorikan menjadi tiga kelompok, yaitu wali atau seni tari pertunjukan sakral, bebali atau seni tari pertunjukan untuk upacara dan juga untuk pengunjung dan balih-balihan atau seni tari untuk hiburan pengunjung.

Pakar seni tari Bali I Made Bandem pada awal tahun 1980-an pernah menggolongkan tari-tarian Bali tersebut; antara lain yang tergolong ke dalam wali misalnya Berutuk, Sang Hyang Dedari, Rejang dan Baris Gede, bebali antara lain ialah Gambuh, Topeng Pajegan dan Wayang Wong, sedangkan balih-balihan antara lain ialah Legong, Parwa, Arja, Prembon dan Joged serta berbagai koreografi tari modern lainnya.

Pakaian daerah

Pakaian daerah Bali sesungguhnya sangat bervariasi, meskipun secara selintas kelihatannya sama. Masing-masing daerah di Bali mempunyai ciri khas simbolik dan ornamen, berdasarkan kegiatan/upacara, jenis kelamin dan umur penggunanya. Status sosial dan ekonomi seseorang dapat diketahui berdasarkan corak busana dan ornamen perhiasan yang dipakainya.

Hari Besar Umat Hindu Bali

Pria

Anak-anak Ubud mengenakan udeng, kemeja putih dan kain.

Busana tradisional pria umumnya terdiri dari:

Udeng (ikat kepala)

Kain kampuh

Umpal (selendang pengikat)

Kain wastra (kemben)

Sabuk

Keris

Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan baju kemeja, jas dan alas kaki sebagai pelengkap.

Wanita

Para penari cilik mengenakan gelung, songket dan kain prada.

Busana tradisional wanita umumnya terdiri dari:

Gelung (sanggul)

Sesenteng (kemben songket)

Kain wastra

Sabuk prada (stagen), membelit pinggul dan dada

Selendang songket bahu ke bawah

Kain tapih atau sinjang, di sebelah dalam

Beragam ornamen perhiasan

Sering pula dikenakan kebaya, kain penutup dada, dan alas kaki sebagai pelengkap.

Hari Raya Nyepi

Hari Raya Nyepi dirayakan setiap tahun Baru Caka (pergantian tahun Caka). Yaitu pada hari Tilem Kesanga (IX) yang merupakan hari pesucian Dewa-Dewa yang berada di pusat samudera yang membawa inti sarining air hidup (Tirtha Amertha Kamandalu). Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap Dewa-Dewa tersebut.

Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon kehadapan Tuhan Yang Mahaesa, untuk menyucikan Bhuwana Alit (alam manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta).

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Bali

Komentar : Kebudayaan bali pada dasar memiliki ciri khusus kerana orang atau warga bali sesungguhnya sangat menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan dan harmonisasi mengenai hubungan manusia dengan Tuhan ( parhyangan ), hubungan sesama manusia ( pawongan ), dan hubungan manusia dengan lingkungan ( palemahan ), yang tercermin dalam ajaran Tri Hita Karana (tiga penyebab kesejahteraan). Apabila manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dan harmonis dengan ketiga aspek tersebut maka kesejahteraan akan terwujud. Dan alat musik di daerah bali tidak jauh beda dengan yang lain tapi cara bermain atau memainkannya yang berbeda catantohnya tari kecak, pada tarian ini alat music yang digunakan disesuikan dengan lagu dari tarian tersebut.

Baca Selengkapnya..

Jumat, 15 April 2011

Kebudayaan Sunda

Budaya Sunda dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Itulah cermin budaya dan kultur masyarakat sunda. Di dalam bahasa Sunda diajarkan bagaimana menggunakan bahasa halus untuk orang tua.

Strategi budaya

"Silih asih, silih asah, dan silih asuh" (saling mengasihi, saling mempertajam diri, dan saling memelihara dan melindungi), merupakan pameo budaya yang menunjukkan karakter yang khas dari budaya religius Sunda sebagai konsekuensi dari pandangan hidup keagamaannya.

Saling asih adalah wujud komunikasi dan interaksi religius-sosial yang menekankan sapaan cinta kasih Tuhan dan merespons cinta kasih Tuhan tersebut melalui cinta kasih kepada sesama manusia. Dengan ungkapan lain, saling asih merupakan kualitas interaksi yang memegang teguh nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan. Semangat.ketuhanan dan kemanusiaan inilah yang kemudian melahirkan moralitas egaliter (persamaan) dalam masyarakat. Dalam tradisi masyarakat saling asih, manusia saling menghormati, tidak ada manusia yang dipandang superior maupun inperior sebab menentang semangat ketuhanan dan semangat kemanusiaan. Mendudukan manusia pada kedudukan superior atau inperior merupakan praktek dari syirik sosial. Ketika ada manusia yang dianggap superior (tinggi), berarti mendudukkan manusia sejajar dengan Tuhan dan jika mendudukan manusia pada kedudukan yang inperior (rendah), berarti mengangkat dirinya sejajar dengan Tuhan. Dalam masyarakat saling asih manusia didudukkan secara sejajar (egaliter) satu sama lainnya. Prisip egaliter ini kemudian melahirkan etos musyawarah, ta'awun (kerjasama) dan sikap untuk senantiasa bertindak adil. Etos dan moralitas inilah yang menjadikan masyarakat teratur, dinamis dan harmonis.

Kesenian

berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).

Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:

Si Oyong-oyong

Sawahe si waru doyong

Sawahe ujuring eler

Sawahe ujuring etan

Solasi suling dami

Menyan putih pengundang dewa

Dewa-dewa widadari

Panurunan si patang puluh

Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung dan calung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan-aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung dan calung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Agama

Sejak agama Islam berkembang di Tatar Sunda, pesantren, paguron, dan padepokan yang merupakan tempat pendidikan orang-orang Hindu, diadopsi menjadi lembaga pendidikan Islam dengan tetap menggunakan nama pasantren (pasantrian) tempat para santri menimba ilmu agama. Pesantren ini biasanya dipimpin seorang ulama yang diberi gelar "kiai". Gelar kiai ini semula digunakan untuk benda-benda keramat dan bertuah, tetapi dalam adaptasi Islam dan budaya Sunda, gelar ini melekat dalam diri para ulama sampai sekarang. Di pesantren ini jugalah huruf dan bahasa Arab mendapat tempat penyebaran yang semakin luas di kalangan masyarakat Sunda dan menggantikan posisi huruf Jawa dan Sunda yang telah lama digunakan sebelum abad ke-17 Masehi.

Islamisasi di tatar Sunda selain dibentuk oleh 'penyesuaian' juga dibentuk melalui media seni yang digemari masyarakat. Ketika ulama masih sangat jarang, kitab suci masih barang langka, dan kehidupan masih diwarnai unsur mistis, penyampaian ajaran Islam yang lebih tepat adalah melalui media seni dalam upacara-upacara tradisi.

Salah satu upacara sekaligus sebagai media dakwah Islam dalam komunitas Sunda yang seringkali digelar adalah pembacaan wawacan dalam upacara-upacara tertentu seperti tujuh bulanan, marhabaan, kelahiran, dan cukuran. Seringnya dakwah Islam disampaikan melalui wawacan ini melahirkan banyak naskah yang berisi tentang kisah-kisah kenabian, seperti Wawacan Carios Para Nabi, Wawacan Sajarah Ambiya, Wawacan Babar Nabi, dan Wawacan Nabi Paras yang ditulis dengan huruf Arab, berbahasa Sunda dalam bentuk langgam pupuh, seperti Pupuh Asmarandana, Sinom, Kinanti, Dangdanggula, dan Pangkur. Untuk mengikat pendengar yang hadir, si pembaca naskah menguncinya dengan membaca sebuah kalimat: Sing saha jalma anu maca atawa ngadengekeun ieu wawacan nepi ka tamat bakal dihampura dosa opat puluh taun. Dengan khidmat, si pendengar menikmati lantunan juru pantun yang berkisah tentang ajaran Islam ini dari selepas isya hingga menjelang subuh.

Sumber : http://www.forumbebas.com/thread-22622.html

Komentar : Kebudayaan suku sunda sangat dikenal dengan budaya yang sangat menjujung tinggi sopan santun. Pada umumnya karakter masyarakat sunda, ramah tamah (someah), murah senyum, lemah lembut, dan sangat menghormati orangtua. Selai itu masyarakat sunda juga sangat mempercayai bahwa sumber kehidupannya adalah dari padi sebagai sumber makanan dan mereka juga percaya terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Selain itu mereka juga memiliki atau mempercayai agama islam dan kebanyakan dari mereka beragama islam, selain itu banyak sekali pesanteren yang ada disana , pesanteren tersebut dibuat dengan tujuan untuk sebagai tempat belajar ilmu agama.

Baca Selengkapnya..

Selasa, 12 April 2011

Kebudayaan Kota Depok Dan Suku Betawi

Kota Depok, adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak tepat di selatan Jakarta, yakni antara Jakarta-Bogor. Kata Depok sendiri berasal dari kata dalam bahasa Sunda yang berarti pertapaan atau tempat bertapa. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa kata Depok merupakan sebuah akronim dari De Eerste Protestants Onderdaan Kerk yang artinya adalah Gereja Kristen Rakyat Pertama. [1].

Depok dahulu adalah kota kecamatan dalam wilayah Kabupaten Bogor, yang kemudian mendapat status kota administratif pada tahun 1982. Sejak 20 April 1999, Depok ditetapkan menjadi kotamadya (sekarang: kota) yang terpisah dari Kabupaten Bogor. Kota Depok terdiri atas 11 kecamatan, yang dibagi menjadi 63 kelurahan.

Nama-nama Kecamatan dan Kelurahan di Kota Depok ini sampai tahun 2010 merupakan warisan budaya (Cultural Heritage) produk sosial masyarakat kota Depok, baik yang memiliki nilai Lokal (penamaan dengan bahasa Betawi) maupun yang memiliki nilai Regional (penamaan berbahasa Banten, Jawa, Sunda), Nasional (penamaan Bahasa Indonesia), serta Internasional (penamaan dengan menggunakan bahasa Sanskerta, Latin; misal Tapos). Dari pengidentifikasian bahasa setidaknya ada tujuh asal bahasa yang digunakan sebagai bahan penamaan Kecamatan maupun Kelurahan di Kota Depok dan jika dipaksakan ditambah satu bahasa lagi yaitu Bahasa Belanda untuk Akronim nama Depok sendiri (masa kolonial).

Dari sisi pembentukan kata untuk memberi nama kecamatan atau kelurahan, masyarakat Depok lebih banyak terbukti menggunakan nama-nama yang tersusun dari banyak kata (bentuk Jamak) dibandingkan nama-nama dengan kata tunggal.

Dan ciri yang lain yaitu tradisi penamaan kecamatan dan kelurahan di Kota Depok lebih banyak menyukai nama-nama berdasar fenomena fisik geografis (Natural, Abiotik) dibandingkan penamaan atas dasar biodiversitas (flora, maupun atas dasar fenomena sosial.

Dan walaupun depok termasuk kedalam wilayah atau provinsi jawa barat tapi bahasa yang digunakan di daerah depok adalah bahasa betawi karena kebanyakan orang depok adalah orang pindahan atau migrasi dari jakarta.

Dan Suku Betawi itu sendiri berasal dari hasil perkawinan antaretnis dan bangsa di masa lalu. Secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Apa yang disebut dengan orang atau suku Betawi sebenarnya terhitung pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon, Melayu dan Tionghoa.

Seni dam Kebudayaan

Budaya Jakarta merupakan budaya mestizo, atau sebuah campuran budaya dari beragam etnis. Sejak zaman Belanda, Jakarta merupakan ibu kota Indonesia yang menarik pendatang dari dalam dan luar Nusantara. Suku-suku yang mendiami Jakarta antara lain, Jawa, Sunda, Minang, Batak, dan Bugis. Selain dari penduduk Nusantara, budaya Jakarta juga banyak menyerap dari budaya luar, seperti budaya Arab, Tiongkok, India, dan Portugis.

Suku Betawi sebagai penduduk asli Jakarta agak tersingkirkan oleh penduduk pendatang. Mereka keluar dari Jakarta dan pindah ke wilayah-wilayah yang ada di provinsi Jawa Barat dan provinsi Banten. Budaya Betawi pun tersingkirkan oleh budaya lain baik dari Indonesia maupun budaya barat. Untuk melestarikan budaya Betawi, didirikanlah cagar budaya di Situ Babakan.

Bahasa suku betawi

Sifat campur-aduk dalam dialek Betawi adalah cerminan dari kebudayaan Betawi secara umum, yang merupakan hasil perkawinan berbagai macam kebudayaan, baik yang berasal dari daerah-daerah lain di Nusantara maupun kebudayaan asing.

Ada juga yang berpendapat bahwa suku bangsa yang mendiami daerah sekitar Batavia juga dikelompokkan sebagai suku Betawi awal (proto Betawi). Menurut sejarah, Kerajaan Tarumanagara, yang berpusat di Sundapura atau Sunda Kalapa, pernah diserang dan ditaklukkan oleh kerajaan Sriwijaya dari Sumatera. Oleh karena itu, tidak heran kalau etnis Sunda di pelabuhan Sunda Kalapa, jauh sebelum Sumpah Pemuda, sudah menggunakan bahasa Melayu, yang umum digunakan di Sumatera, yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional.

Prilaku dan Sifat suku betawi

Asumsi kebanyakan orang tentang masyarakat Betawi ini jarang yang berhasil, baik dalam segi ekonomi, pendidikan, dan teknologi. Padahal tidak sedikit orang Betawi yang berhasil. Beberapa dari mereka adalah Muhammad Husni Thamrin, Benyamin Sueb, dan Fauzi Bowo yang menjadi Gubernur Jakarta saat ini .

Ada beberapa hal yang positif dari Betawi antara lain jiwa sosial mereka sangat tinggi, walaupun kadang-kadang dalam beberapa hal terlalu berlebih dan cenderung tendensius. Orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya. Masyarakat Betawi sangat menghargai pluralisme. Hal ini terlihat dengan hubungan yang baik antara masyarakat Betawi dan pendatang dari luar Jakarta.

Orang Betawi sangat menghormati budaya yang mereka warisi. Terbukti dari perilaku kebanyakan warga yang mesih memainkan lakon atau kebudayaan yang diwariskan dari masa ke masa seperti lenong, ondel-ondel, gambang kromong, dan lain-lain.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Betawi

Komentar : Kebudayaan daerah depok adalah betawi tapi dia termasuk daerah jawa barat yang kebanyakan adalah bersuku sunda, ini kerana wilayah depok yangberada tepat dipinggiran kota Jakarta sehingga banyak orang yang bersuku Jakarta yang tinggal didaerah depok sehingga menyebabkan berubahnya suku yang ada di depok sampai saat ini orang di depok menjalankan kehidupanya sesusai dengan kebudayaan suku betawi yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan orang Betawi juga sangat menjaga nilai-nilai agama yang tercermin dari ajaran orangtua (terutama yang beragama Islam), kepada anak-anaknya.

Baca Selengkapnya..